Sabtu, 16 Juli 2011

MALAM NISHFU SYA'BAN

 
Indahnya Islam pada IMAN, Nikmatnya sholat pada KHUSYUK, 
Hikmahnya puasa pada FITRAH, Tujuannya haji adalah MABRUR, Intinya sodakah itu adlh IKHLAS, Hingga diri mnjadi menjadi IKHSAN agar mnjadi insan KHAMIL 
pasti Allah memberii RIDHA, "kawan di malam Nisfu Sya'ban ini.
mari kita Hijrahkan diri menuju IKHSAN mengejar KHAMIL agar hidup Mndapat RIDHA . 
ABY ALBRAVE BILHAQ (Syamsul Bahri)


Kebesaran hari ini diterangkan oleh Rasulullah saw. ” Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban, seraya berkata, ” Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan Shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu kelangit .”

Rasulullah saw bertanya, ” Malam apa ini Jibril ?”

Jibril menjawab. ” Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu .”

Rasulullah pun keluar rumah, lentas mengerjakan shalat (sendirian) dan menangis dalam sujudnya, seraya berdoa :

” Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab dan siksa-Mu serta kemurkaan-Mu
Tiada kubatasi pujian-pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu
Maka bagi-Mu lah segala pujia-pujian itu Hingga Engkau rela .” (HR Abu Hurairah)
Oleh karena itu sahabatku, malam tersebut sangatlah baik untuk beribadah dan memohon ampunan (bertaubat) atas segala hal buruk yang kita lakukan, dan semoga Allah swt menerima segala amal ibadah dan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita . . Aamiin..

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mengingatkan sesama tentang kedatangan bulan ini. Maka api neraka haram baginya.”

Tulisan ini hanyalah sekedar berbagi untuk teman-teman ummat Muslim, semoga bermanfaat. Karena memberikat sesuatu yang bermanfaat adalah bagian dari amal ibadah.
 Sang pencinta akan melenyapkan segala keinginannya diluar cinta, yang ada hanya ingin memberi dan mngabdi kepada sang kekasih hati, hidup sdh lebur dalam penghambaan demi kecintaan kepada sang Kekasih hati. Sedangkan sang perindu selalu menghiasi desahan nafas dan denyut jantungnya dgn wajah indah sang kekasih hati, karena seluruh hidupnya sudah dia balut dengan cinta tulus utk kekasih hati....LV U Full my Dear...:)
 
 
 

Jumat, 01 Juli 2011

MERAIH KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN DENGAN BERBUAT BAIK


Oleh : Syamsul Bahri/Albrave Bilhaq


“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. 
 (QS. Al-Hajj 22:77).


Ayat yang mulia ini menerangkan dan memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk ruku, sujud, dan menyembah Allah serta berbuat baik. Para ulama tafsir menjelaskan diantara hikmah disebutkannya perintah ruku’ dan sujud secara terpisah dari perintah menyembah Allah ta’ala didalam ayat diatas tersebut padahal perbuatan ruku’ dan sujud merupakan bagian dari menyembah (beribadah) kepada-Nya menunjukan bahwa ruku’ dan sujud yang terdapat didalam ibadah sholat adalah ibadah terbesar seorang hamba kepada Rabbnya[1]. Kemudian Allah ta’ala perintahkan setelah untuk berbuat baik


Perbuatan Baik Ciri Seorang Muslim

Allah ta’ala menyebutkan sebuah berita bahwa diantara sifat-sifat yang dimiliki manusia pilihan-Nya untuk menjadi seorang nabi dan rasul yang menyampaikan risalah adalah “ يسارعون فى الخيرات bersegera didalam kebaikan”   (QS.Al-Anbiya’/21:90), begitu pula seorang muslim, diperintahkan untuk berbuat baik (QS. Al-Hajj/22: ), bahkan tidak cukup hanya berbuat baik tetapi juga berlomba-lomba dididalam kebaikan (QS. Albaqoroh/2:148). Dan Allah menjanjikan mereka yang bersegera dalam kebaikan akan memperoleh kebahagiaan/kesuksesan (QS.Al-Mu’minuun/23:61).[2] Dan ini sama persis maknanya dengan ayat Qs. Al-Hajj/22:77 diatas.


Yang Dicari Setiap Insan

Ketika kita bertanya kepada diri kita ataupun bertanya kepada orang lain tentang apa yang kita inginkan dan kita cari dalam kehidupan ini, niscaya diri kita dan setiap orang akan mengatakan bahwa Kesuksesan dan Kebahagiaan adalah keinginan setiap manusia.Kesuksesan terukur dari apa yang kita peroleh dan hasilkan, sedangkan kebahagiaan adalah dari apa yang kita rasakan. Dan Allah ta’ala menerangkan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan itu ada didalam perbuatan baik.


Makna Sebuah Kebaikan

Didalam Al-qur’an Kebaikan disebutkan dengan kataالخير dan dalam bentuk jama’ (plural)nya الخيرات , para ulama tafsir menterjemahkan makna perbuatan baik ini dengan berbagai macam pengertian, diantaranya : Kebajikan dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya[3], amal-amal sholeh[4], yang kalau kita simpulkan, makna kebaikan secara umum adalah seorang muslim yang selalu berada didalam lingkaran ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, yang secara khusus disebut dengan istiqomah, disebutkan dalam hadist Abu ‘Amru Sofyan bin Abdillah berkata : “Aku berkata kepada rasulullah, “Ya Rasulullah, Sebutkanlah kepadaku satu perkataan

Perkataan saja yang aku tidak akan bertanya setelah ini kepada orang selain dirimu?, kemudian beliau bersabda : “Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian ISTIQOMAH lah” (HR. Muslim)[5]. Dari sinilah kita pahami bahwa Iman dan Istiqomah adalah modal untuk berada di dalam lingkaran kebaikan yang berakhir pada kesuksesan dan kebahagiaan seseorang pada dua kehidupan yaitu kehidupan dunia dan akhirat.


Tingkatan Kebaikan 

Didalam permasalahan Kebaikan ini, setiap manusia memiliki derajat dan tingkatan-tingkatannya, yaitu ;
1. Selama seseorang berbuat baik, maka selama itulah ia berada didalam lingkaran kebaikan dan ia tidak tercela dengan kebaikan yang dilakukannya,  karena begitu banyaknya jalan-jalan kebaikan, bahkan sekalipun kebaikan yang dilakukannya adalah kebaikan dalam standar minimal kebaikan, disebutkan di dalam sebuah hadist dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah r.a., katanya: "Saya berkata: Ya Rasulullah, amalan manakah yang lebih utama - banyak fadhilahnya?" Beliau s.a.w. menjawab: "yaitu beriman kepada Allah dan berjihad untuk membela agamaNya." Saya bertanya lagi: "Hamba sahaya manakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "yaitu yang dipandang terindah bagi pemiliknya serta yang termahal harganya."Saya bertanya pula: "Jikalau saya tidak dapat mengerjakan itu -yakni berjihad fi-sabilillah ataupun memerdekakan hamba sahaya yang mahal harganya, maka apakah yang dapat saya lakukan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Berilah pertolongan kepada seseorang pekerja atau engkau mengerjakan sesuatu kepada seseorang yang kurang pandai bekerja" Saya berkata pula: "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah mengetahui, jikalau saya ini lemah sekali dalam sebahagian pekerjaan?" Beliau s.a.w. bersabda:"Tahanlah keburukanmu, jangan sampai mengenai orang banyak, amalan sedemikian itu pun merupakan sedekah daripadamu untuk dirimu sendiri - yakni tidak mengganggu orang lain." (Muttafaq 'alaih)[6]
2. Yang membedakan muslim dengan muslim lainnya adalah didalam meletakkan kebaikan itu pada dirinya (DSP, Daftar Skala Prioritas). Setiap muslim memiliki kesempatan untuk memilih kebaikan yang mana yang dapat dilakukannya, dan muslim yang baik adalah mereka yang memilih untuk melakukan kebaikan yang besar nilainya (standart maksimal).
3. Muslim yang paripurna adalah seorang muslim yang memiliki atsar (tapak perjalanan) disemua pintu-pintu kebaikan yang banyak tersebut.


Penutup

Didalam sejarah kehidupan generasi terbaik yang tercatat sepanjang sejarah yaitu para sahabat ridwaanallohi ‘ajma’iin kita dapati bahwa mereka adalah sosok manusia yang senantiasa melakukan kebaikan, berlomba-lomba didalam melakukannya, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berada didalam tingkatan ketiga, yaitu selalu berada disemua perbuatan baik sebagaimana sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq yang disebutkan oleh rasulullah bahwa Abu bakar kelak akan dipanggil oleh Allah ta’ala untuk masuk kedalam syurga dari semua pintu syurga karena beliau adalah orang yang senantiasa ada didalam semua pintu kebaikan.
Wallaahu Ta’ala A’lam

 SUMBER :
[1] Fathul Majiid Syarah Kitaabut Tauhiid bab Menyembelih binatang dengan niyat bukan karena Allah oleh Syaikh Abdurrahman Aalu Syaikh hal.264.
[2] Tafsir Ath-Thobari
[3] Tafsir Aisar Abu Bakar AlJazairi Juz 1 Hal.63
[4] Tafsir Ath-Thobari Juz 3 Hal.192
[5] Riyadush Sholihin Imam Nawawi Bab Istiqomah Juz 1 Hal.64.
 [6] Riyadush Shoolihiin Imam Nawawi bab Bayaknya Jalan-jalan Kebaikan Juz 1 hal.104

Jangan lupa dan jangan menganggap remeh, ketika anda meletakkan tangan anda di pundak orang yang anda cintai, maka sesungguhnya hal itu merupakan SENTUHAN berarti dan berkesan. maka hal itu tak mungkin saling terwujud kecuali antara dua hati yang saling CINTA, dari sanalah anda bisa mengetahui nilai hubungan yang anda jalin sesama manusia

Rabu, 29 Juni 2011

MENUJU CINTA ALLAH


Aby Albrave Bilhaq (Syamsul Bahri)


“ Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan ”. ( Q.S.Al-Ankabut 45).

Jalan menuju cinta Allah sangat berliku bagi orang yang tertutup hatinya, bahkan bila tidak ditempuh dengan keteguhan iman, cinta kepada Allah tidak akan tercapai. Hal ini disebabkan faktor-faktor berikut:
1. Allah, tidak tampak oleh mata kita/ghaib.
2. Kita sudah bisa menimbang, menilai sesuatu itu hanya dengan panca indera kita yang lima. Dan jarang sekali kita melatih akal kita ke arah yang  ghaib.
3. Kita selalu tertinggal dalam mengejar ilmu pengetahuan baik di dunia mau pun di akhirat, sehingga  akhirnya kita tidak berkeinginan untuk mengenal diri kita sendiri, apa lagi untuk mengenal apa yang tidak tampak di mata padahal Dia ada. Akibatnya tidak kenal dan tidak cinta kepada Allah SWT.
4. Ulama-ulama Islam atau golongan kita sendiri, lebih mencurahkan perhatiannya pada ilmu-ilmu lain, seperti ilmu fiqih dan lain-lain. Dan di anggap ilmu tauhid ini satu ilmu pengetahuan yang hanya untuk iseng-iseng saja/ pelecehan tentang ilmu tauhid.
Akibatnya, kita merasa jauh dari Allah SWT dan merasa, bahwa undang-undang Allah SWT adalah suatu tekanan, sebagai suatu hukuman yang menyempitkan langkah-langkah/gerak-gerik manusia. Merasa tidak ada lezatnya iman kepada segala yang ghaib-ghaib itu dan tidak memperoleh keuntungan dari hukum-hukum Allah. Padahal hukum Allah (dinullah) diturunkan sebagai wujud cinta Allah kepada hamba-Nya.
Satu contoh:Kita semua mengetahui satu ayat mengenai shalat yang lima waktu dengan dengan faedah-faedahnya dan keuntungan yang terkandung di dalamnya seperti yang disebutkan di atas. Betulkah demikian faktanya? Semua muslimin mengerjakan shalat di masjid, mushalla, di rumah sendiri, tapi apakah kita terbendung, terhindar dari mengerjakan yang fahsya keji dan mungkar yang diterangkan Allah itu? Apakah kita yang shalat, tetapi masih berbohong juga,masih mempergunjingkan teman-teman juga, marah, mencaci maki dan lain-lain. Mengapa demikian? Apakah yang salah? Apakah firman Allah yang tidak tepat atau shalat kita yang salah pasang atau kita sendiri yang salah amanat?
Yang sebenarnya adalah, ayat Allah tepat, jitu dan hak, tidak mungkin diganggu gugat atau tidak boleh ragu-ragu. Andaikan shalat tidak bisa menghindarkan seseorang dari fahsya dan munkar, keji, dan merusak, kitalah yang salah pasang atau mendirikan seseorang dari bangunan tidak di atas tempatnya, seolah-olah sebuah bangunan didirikan di atas rawa-rawa atau di atas tanah yng lunak. Gedung yang demikian tidak bisa bertahan lama, sebentar akan miring dan pada akhirnya roboh sama sekali.
Demikian contohnya shalat ini. Tujuan selain mengabdikan diri kepada Allah SWT sebagai Khaliq juga sebagai benteng, suatu tembok baja yang dapat menghalangi kita dari terjerumusnya ke jurang perbuatan keji dan mungkar, sehingga shalat kita selamat di dunia dan sejahtera di akhirat atau selamat dari api neraka. Dengan mendirikan shalat, akan tercapai kedamaian dan kesejahteraan tegak dan kokoh tiang agama Islam ini. Suatu bangunan akan kokoh bila memiliki pondasi dan tanah yang baik pula. Begitu pula dengan shalat yang benar dan khusuk, sesuai dengan tuntunan dari Rasul-Nya, akan membuat iman kita kuat menahan godaan dari segala ajakan setan yang dilaknat Allah.
Pondamen dan dasar tiang shalat, adalah jiwa yang padat dengan tauhid. Bagai lapangan yang luas dan hijau oleh warna rumput yang sudah dibersihkan dari lubang-lubang dan tanggul yang akan merusaknya.

BOLEHKAH WANITA ADZAN?

 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِسَاء بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْض ٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
 
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka….”. (Q.S. An-Nisaa’ 4:34).

Hukum Adzan
Adzan adalah pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan lafaz tertentu dan hukum-nya adalah wajib, sebagaimana pe-rintah Rasulullah SAW: “Apabila (waktu) shalat tiba, maka hendak-lah salah seorang di antara kamu mengumandangkan adzan untuk kamu dan hendaklah yang paling tua di antara kamu yang menjadi imam kamu!” (Muttafaqun ’alaih)
Memanjangkan Leher
Dari Mu’awiyah RA, bahwa Nabi SAW bersabda: ”Sesungguh nya para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pa-da hari kiamat”. (HR. Muslim). Maka dari hadis ini menurut imam Nawawi, yaitu pada hari kiamat nanti, ketika manusia dipenuhi de-ngan keringatnya (matahari sa-ngat dekat di atas kepala) sehi-ngga keringat yang deras meng-ucur ada yang sampai sebatas mata kaki, ke perut dan ada ya-ng terendam hingga sebatasnya mulutnya). Ia memanjangkan le-hernya sehingga terhindar dari (terendam) keringat dan kesulit-an itu. Atau juga berarti orang yang paling awas dengan rah-mat dan pahala Allah SWT.
Asal Mula Adzan
Ketika Rasulullah SAW me-lakukan hijrah ke Madinah dan posisi Islam ketika itu sudah me-naik, para pemeluknya telah ba-nyak. Maka mereka berkumpul, bermusyawarah untuk menentu-kan suatu media untuk mengu-mumkan masuknya waktu shalat agar mereka dapat berkumpul dan melaksanakan shalat berjamaah. Di antara mereka ada yang meng-usulkan api, ada yang mengusul-kan lonceng dan ada yang mengu-sulkan agar menggunakan terom-pet. Namun semua usulan tersebut tidak disetujui, karena masing-ma-sing adalah panggilan bagi agama Majusi, Nasrani dan Yahudi. Ke-mudian mereka kembali ke rumah masing-masing. Di antaranya ada-lah Abdullah bin Zaid yang ke-mudian bermimpi dalam tidurnya.
Mimpi Abdullah bin Zaid
Dari Abdullah bin Zaid bin Ab-di Rabbih, ia berkata: “Tatkala Rasulullah SAW telah mengambil keputusan hendak memukul na-qus (lonceng), namun sebenarnya beliau tidak suka karena menye-rupai kaum Nashara, maka pada waktu tidur malam, aku bermimpi ada yang mengelilingiku yaitu se-orang lelaki mengenakan dua pa-kaian hijau dan memegang lon-ceng. Lalu aku bertanya kepada-nya: “Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng itu?” Ja-wabnya: ”Apa yang akan kamu perbuat dengan lonceng ini?” Ma-ka saya jawab: “Dengannya aku akan mengajak (orang-orang) un-tuk shalat (berjamaah)”. Kemudian laki-laki itu bertanya: ”Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari pada itu?” Sa-ya jawab: ”ya, tentu!” Kata laki-laki itu: ”Ucapkanlah: Allaahu ak-bar Allahu akbar (dibaca 2x), Asy-hadu allaa ilaaha illallaah (diba-ca 2x), Asyhadu anna Muhamma-dar rasulullaah (dibaca 2x), Hay-ya `alashshalaah (dibaca 2x), Hayya `alal falaah (dibaca 2x), Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaah”.
Rasul SAW Membenarkan
Abdullah bin Zaid melanjut-kan ceritanya: “Kemudian laki-laki itu melanjutkan: “Bila eng-kau akan memulai mendirikan shalat, ucapkanlah: “Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Asyhadu anna Muhammadar rasulullaah, Hayya ‘alashshalaah, Hayya ‘alal falaah, Qadqamatish shalaah, Qadqamatish shalaah, Allaahu Akbar, Laailaaha illallaah”. “Kata Abdullah bin Zaid lagi: “Tatkala (waktu) subuh tiba sa-ya datang kepada Rasulullah SAW lalu kukabarkan kepada beliau mimpiku semalam itu. Kemudian Rasulullah SAW ber-sabda: “Sesungguhnya mimpi ini adalah benar, insya Allah!” La-lu beliau menyuruh (kami) me-ngumandangkan adzan, maka Bi-lal bekas budak Abu Bakar me-ngumandangkan adzan dengan lafaz adzan seperti itu”. (HSR Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Bolehkah Wanita Adzan?
Kalau disebutkan dalam hadis, bahwa para muadzin akan me-miliki leher yang panjang di ak-hirat kelak, lalu apakah pahala Allah SWT itu hanya milik kaum laki-laki? Bagaimana dengan ka-um wanita yang menginginkan pahala tersebut? Islam telah me-ngatur segalanya, tidak hanya masalah shalat, puasa dan zakat saja, tapi cara makan-minum hing-ga beristinja’ (cebok) pun Islam telah mengaturnya. Syariat Islam telah menentukan mana yang bo-leh dilakukan dan mana saja yang tidak boleh dilakukan, demikian pula masalah adzannya seorang wanita.
Adzan Wanita Bagi Laki-Laki
Jumhur (mayoritas) ulama me-nyatakan, bahwa suara wanita ju-ga termasuk aurat yang tidak bo-leh diumbar, terutama untuk la-wan jenisnya. Menurut para ahli fiqih dari keempat madzhab pun menyepakati bahwa adzan dan iqamah seorang wanita tidak la-yak dikumandangkan bagi jamaah shalat kaum lelaki, bahkan tidak disyariatkan. Menurut madzhab Hanafi hukumnya makruh, bah-kan Imam Hanafi sendiri berpen-dapat, disunnahkan untuk mengu-langi adzan yang dilakukan seor-ang wanita untuk jamaah laki-la-ki. Madzhab Maliki dan Syafi’i menganggap tidak sah dan mela-rang seorang wanita menguman-dangkan adzan dan iqamah bagi kaum laki-laki.
Dalam sebuah hadis yang pan-jang, Abdullah bin Umar RA me-riwayatkan bahwa ketika kaum muslimin berkumpul untuk me-nyiapkan shalat berjamaah. Lalu Umar berkata: “Apa tidak ada se-orang laki-laki yang diminta agar mengumandangkan ajakan shalat?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sahabat Bilal, berdirilah kumandangkan ajakan shalat (ad-zan)”. (HR. Bukhari dan Muslim). Ucapan sahabat Umar, “Apa tidak ada seorang laki-laki…”. Me-nunjukkan bahwa yang pantas mengumandangkan adzan adalah kaum laki-laki.
Adzan Wanita Bagi Wanita
Dari Ibnu Umar RA, ia berka-ta bahwa Rasulullah SAW ber-sabda: “Tidak ada adzan dan juga iqamat bagi kaum wani-ta”. (HR. Baihaqi dengan sanad shahih). Hal ini senada dengan para penganut madzhab Maliki dan juga Hambali yang berpen-dapat bahwa tidak ada adzan dan iqamat bagi kaum wanita. Ada pun menurut Imam Syafi’i: “Apa bila dikumandangkan adzan dan iqamat bagi shalat mereka (ka-um wanita), maka hal ini tidak ada larangan”. Imam Ahmad ber pendapat dengan Imam Syafi’i dalam hal ini, namun Imam Ah-mad menambahkan: “Boleh ju-ga bagi shalat mereka (kaum wa-nita) tanpa mengumandangkan adzan”, sebagaimana Aisyah RA menceritakan: “Kami melaksa-nakan shalat (berjamaah) tanpa ada iqamat”. (HR. Baihaqi). Ai-syah RA sebagai isteri Rasulu-llah SAW sudah barang tentu selalu taat dengan yang telah di-syariatkan Nabi SAW.
Pada awalnya, bagi wanita memang tidak ada kewajiban adzan mau pun iqamah dalam shalatnya, karena bagi kaum wa-nita shalat di rumahnya lebih baik dari pada di masjid secara berjamaah dengan kaum wanita, apalagi jamaah laki-laki. Namun demikian Nabi SAW bersabda: “Janganlah kalian melarang ka-um wanita pergi ke masjid, akan tetapi rumah adalah lebih baik ba-gi mereka”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Umar RA). Juga Ummu Humaid As-Sa’idi mence-ritakan, ia pernah mendatangi Ra-sulullah SAW seraya berkata: “Wa-hai Rasulullah, sesungguhnya aku lebih suka shalat bersamamu. Be-liau menjawab: “Aku mengetahui akan hal itu. Akan tetapi shalat di kamar adalah lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu (khu-sus wanita) dan shalatmu di mas-jid kaummu adalah lebih baik da-ripada shalatmu di masjid jami’”. (HR. Ahmad dan Thabrani).
Meski tidak disyariatkan adzan dan iqamah bagi wanita, akan teta-pi bila mereka mengadakan jama-ah shalat khusus wanita di tempat yang terpisah, maka menurut Imam Syafi’i sah-sah saja bila salah sa-tu dari mereka ada yang mengu-mandangkan adzan dan iqamah tanpa mengeraskan suaranya.
Setelah adzan dan iqamah di-kumandangkan, wanita yang men-jadi imam bagi jamaah wanita ti-dak berdiri di depan sebagaimana imam laki-laki, melainkan berdiri di tengah-tengah barisan shaf pertama. Hal ini sesuai dengan hadis yang menceritakan bahwa Aisyah RA pernah mengimami kaum wanita, di mana ia berdiri dalam satu barisan bersama me-reka. Ummu Salamah juga per-nah mengerjakan hal yang sama.
Seperti Berdzikir
Para ulama berbeda-beda da-lam mengungkapkan masalah ad-zan dan iqamah bagi wanita da-lam jamaah wanita. Imam Na-wawi berpendapat, disunnahkan bagi mereka iqamah tanpa dida-hului adzan. Andai dengan adzan pun tidak masalah, asal tidak mengeraskan suaranya, seperti halnya berdzikir kepada Allah SWT. Dengan demikian pahala adzan tidak hanya milik kaum lelaki, tapi bisa diraih pula oleh para wanita ketika mengadakan jamaah sendiri khusus wanita, karena termasuk dzikir kepada Allah SWT.
Wallahul a’lam bishshawab.

Rabu, 18 Mei 2011

ANTARA AKAL DAN IMAN

Ketika seseorang telah samapai pada tingkat keagamaan yang makin mendalam, disanalah keinginan untuk mencari kebenaran murni muncul. Pencarian akan samapai kepada kedudukan atau posisi IMAN dan AKAL. mana yang harus diikuti atau di nomor satukan diantara keduanya?

Telah sejak lama ihwal IMAN dan AKAL itu dibicarakan orang bahkan samapai tingkat tasuf ataupun filsafat oleh para ulama cendikiawan. Penjelasan makin melebar dan rumit, sulit untuk disepakatkan dalam bahasa yang mudah dan sederhana. semenjak manusia dilahirkan dari rahim ibunya masing masing, kelengkapan tubuhnya, anggota badan dan semua alat indranya mengikuti hadir bersamaan.

Pada gilirannya, Anggota badan dan alat indera pun dengan cara bertahap, berfungsi sesuai dengan pertumbuhan jasmani. salah satu sekian banyak kelengkapan tubuh manusia adalah otak, yang kemudian bersamaan fungsinya biasa disebut Al 'Aql (Panca Indera) termsuk akal benar benar telah ada dalam diri manusia sejak dilahirkan.

Lalu pertanyaanya dimanakah  IMAN ???
Pada mulanya IMAN bahkan agama, termasuk ilmu ilmu apapun berada di luar diri manusia. maka melalui pendengaran, penglihatan dan nurni atau kata lainnya lahirnya Agamatermasuk IMAN ISLAM, dan Ihsan serta ilmu ilmu lainnya masuk dan menjadi bagian dari kehidupan kita.

HUBUNGAN IMAN DAN AKAL.

Bila Agama, keimanan atau ilmu itu pada awalnya ada diluar diri manusia sejak semula yakni AKAL, maka akal adalah sarana untuk menjemput IMAN masuk kedalam JIWA manusia. Bukankah Allah telah mengetangahkan kisah penciptaan Khalifah ddi muka bumi, di mana Adam sebagai KANDIDATNYA? dan bukankah serta merta para malaikatpun memprotes pencalonan ini, dengan alasan bahwa manusia itu snantiasa berbuat kekacauan serta saling menumpahkan darah anatar sesamanya. Ternyata ada satu Rahasia yang belum di ketahui Malaikat, Yaitu sebelum menjadi khalifah, Adam harus dilengkapi Ilmu pengetahuan. pada gilirannya par malaikat pun mengakui Adam sebagai khalifah (Wakil Allah) di bumi, karena akal dengan kecerdasannya sudah berfungsi dengan ungkapan " Mahasuci engkau (yaa Tuhan), kami tak mengertai apa apa, (kami hanya mengetahui sebatas apa yang engkau ajarkan kepada Adam tidak diajarkan kepada kami :)
"Sungguh ENGKAU maha mengetahui dan maha bijaksana

Sabtu, 07 Mei 2011

" MAMI " KAU BAGAI MATAHARI YANG SELALU BERSINAR

BerSINAR kau bagai CAHAYA, . . Yang selalu beri ku penerangan
Selembut citra kasihmu kan . .Selalu ku rasa dalam suka dan duka 
Kaulah IBUku CINTA kasihku . . Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai MATAHARI yang selalu berSINAR . . Sinari HIDUPku dengan keHANGATanmu

Bagaikan EMBUN kesejukan HATI ini . . Dengan KASIH SAYANGmu
Betapa kau sangat berarti . . Dan bagiku kau takkan pernah terganti
Kaulah ibuku cinta kasihku . .Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai MATAHARI yang selalu bersinar . .Sinari hidupku dengan kehangatanmu ......

Mami...
Pada jalan berliku, smoga Allah mluruskan langkahku
saat langit dunia ini runtuh,smoga Allah meneguhkan aqidahku..
ketika kesusahan melandaku,smoga Allah menguatkan selalu hatiku
Mami, saya Rindu peluk dan belai kasih sayangmu . .
Kau bagai MATAHARI yang selalu bersinar ...
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

SENYUMmu Meluluhkan Api Amarahku, Nasihatmu Pemanis Pahit Lidahku,
Mami Teguranmu Bagaikan KUNTUMAN BUNGA dalam RAUDHAH HATiku, Bagaikan BULAN REDHAmu menCAHAYAkan perjalanan HIDUPku DOAmu selalu mengiringiku,
LUV MY MOTHER, Bangga Dengan CINTA yg ku Punya "Selamat MILAD Mami.."
pesan mami untukku sore kemarin dipertemuan kecil kami :
Syam " Suami itu harus brtanggungjawab pnuh sbagai Imam dlm keluarga, tiang penyokong, agar kamu mmpergunakan dngn se..baik-baikny. krena di situ nak klebihan yg dimiliki oleh lelaki, itulah tanggungjawab lelaki "amanah di dunia dan akhirat.. truntuk istri & anaknya ...Doa dn restu Mami bersamamu..Aku pun mnjawab dngan linang air mata ...Amin Yaa Rabb..:'(